Juraganship

Pengunjung weblog yang berbahagia, saya ikutan ber-MLM di PT Melia Nature Indonesia sejak tahun 2005, tepatnya Maret 2005 ketika PT ini masih bernama Melia Summit. Namun kegiatan saya macet, karena selain ada masalah manajerial dari Malesia, juga upline saya kena penalti, sehingga tidak dapat aktif lagi.

Meskipun demikian, ada pelajaran menarik ketika saya diajak “memprospek” oleh upline ke seorang JUGARAN merangkap investor. Bukannya berhasil memprospek, malah memperoleh pelajaran menarik tentang JURAGANSHIP, yang intinya saya buat artikel sebagai berikut.

Investorship vs Entrepreneurship melahirkan Juraganship
Oleh: Ki Denggleng Pagelaran

Kemarin (5 Mei 2005) aku dijemput Mas Bambang Hidayat untuk mendatangi Open Plan Presentation dari suatu Marketing Company berbasis MLM. Sebelumnya sesuai dengan kebiasaanku yang suka iseng bermodal Rp 100.000,-, aku nyebar SMS ke beberapa orang tentang OPP itu. 

Salah seorang yang aku isengi adalah seorang – katakanlah – Dalang Bisnis, bernama Ki Sumardiono Brotosumarto (KSB). Dia segera tanggap langsung reply: “OPP kuwi opo?” (OPP itu apa?). Berhubung aku belum pernah ikut OPP, ya aku jawab: “Aku sendiri belum tahu, wong ini cuman diajak teman, Bambang Hidayat HP: 0815 7200 1433. Katanya sih tentang MLM yang akan dia modifikasi untuk TASKIN.” Nah, chatting via ponsel segera terjadi.

KSB: “Wah kalau aku seneng menggarap kaum muda untuk bermental njuragan. Biar berani investasi, meskipun kelas cembre. Kyosaki kecil-kecilan, lah…” 

KDP: “Lho, katanya dalam OPP itu juga mengumpulkan kaum muda, lho.”

KSB: “Ya, tapi aku lebih senang main di managementship saja. Malah mungkin investorship. Kalau sampeyan memang pada posisi strategis untuk ngajak kaum muda – mahasiswa – untuk beralih paradigma dan memindah mindset dari mental “orang gajian” menjadi mental “juragan“, yang kasih gaji… hehehe.” 

Waduh, berarti gagal nih godaanku untuk mengajak beliau tengok-tengok OPP. Harapanku sih agar beliau sama-sama denganku dalam bersikap di OPP itu, yaitu menangkap atmosfir bisnisnya. Mumpung gratis…. Lha habis dalam suatu chatting via internet dengannya, tentang analisis personalitas antara aku dan dia hanya terpaut satu faktor dari 4 faktor personalitas. Aku tergolong INTP: Introvert – wong clingus, gak pinter omong, bisanya nulis…;p, iNtuitif – mengandalkan intuisi, kadang-kadang terlalu cepat ambil keputusan sampai salah kedadèn..;-), Thinker – mikir thok… dan  Perciever – terima dulu, timbang-timbang baru bergerak… lambat lah. Nah beliau INTJ. Beliau seorang Judger… pemutus seketika setelah menangkap dari intuisi dan dipikirkan cepat, langsung memutuskan sesuatu. Memang beliau langsung memutuskan untuk tak ikut OPP.

Tapi kata resep sukses dalam wirausaha itu konon “Jangan pernah mau ditolak“, maka aku cari jalan agar lebih tahu siapa Pak Dalang Bisnis ini. Maka tak pancing saja: “Sampeyan bersedia kasih ceramah di IPB, tanggal 13 Mei dalam acara Entrepreneurs Day?”

KSB: “Wah mboten mawon, tidak saja, aku tak biasa bicara di depan khalayak lebih dari dua lusin kepala… Sampeyan saja yang bicara, bahannya aku siap. Tapi kalau tanggal 13 ya kemèpèten Ki….”

KDP: “Ya sudah, nanti setelah OPP kalau tak kemalaman aku mampir ya, ngajak Mas Bambang, siapa tahu ada sesuatu yang bisa terbentuk. Terutama saling tahu dulu lah, wong kita juga belum pernah ketemu. Alamatnya saja, Ki….”

KSB: “Jl. Kelapa Kuning Raya, Blok C1 No. 1, Pondok Klopo Endah….. hehehe, kula tenggo rawuhipun….”

Ceritanya OPP sudah aku ikuti kira-kira 50% acara. Aku ajak Mas Bambang Keluar. Tadinya mau langsung ke Bogor. Lha tapi aku kan janji, mau ke KSB. Maka tak kirim SMS: “Kalau jam segini kemalaman nggak?”

KSB: “Monggo 2x”.

Maka cabut kami dari Cawang ke Pondok Kelapa Indah. Ya ampuuuuuun, nyari alamat kalau malam hari, meskipun di kompleks borju, tetap saja cenunak-cenunuk. Herannya yang memandu bukan KSB melainkan isterinya. Eh, baru tahu aku, KSB sedang batuk, tak bisa bicara jelas via telepon. Singkatnya sampai. Nah dua orang chatter yang belum pernah bertatap muka ketemu. Kaya pertemuanku pertama dulu dengan Mas Bambang… hehehe.

Singkatnya lagi beliau dengan terbatuk-batuk, tetapi tetap nikmat dan rajin nyedot “Lucky Strike” berbatang-batang, nemani Dji Sam Soe dan GS-Pro, cerita ngalor ngidul. Pada intinya beliau minta kepada kami berdua yang kemungkinan masih sempat banyak berhubungan dengan kaum muda, terutama anak-anak sendiri, untuk mau mengubah mind-set, dari bermental orang gajian (cari upah nanti setelah usia kerja), menjadi bermental Juragan atau investor. Biasa, aku ya nylethuk saja: “Gimana kalau istilahnya bukan investorship atau managementship, tetapi langsung saja JURAGANSHIP!”. Yah, pokoknya terserah lah. Yang penting biar orang Indonesia, terutama para mudanya, untuk belajar cepat tanggap, ambil kesempatan pertama, memutuskan dan berbuat. Yang penting investor itu intinya GOLÈK BATHI, cari untung. Caranya?

 Caranya dengan MBATHÈNI… memberikan untung pula pada orang lain. Saling mengutungkan yang multiplyernya dapat melipat-lipat gandakan investasi awal! Contohnya ya beliau sendiri. Lalu beliau ambil majalah SWA edisi Maret – April 2005. Ada pengusaha meubel berbantal kulit “Magetan Putra” yang masuk peringkat 4 majalah SWA. Konon pengusaha itulah dari sekian puluh (bahkan ratus) orang yang tertarik dengan tulisan-tulisan KSB di milis dan internet yang sowan, minta nasihat dan modal dan lalu berhasil. Lainnya, katanya, selalu saja berparadigma: “Engkô nèk ngéné, piyé? Engkô nèk ngônô, piyé? (nanti kalau gini-gitu, gimana?) Akhirnya NÈK TENAN yang terjadi…. alias bisnisnya gagal!”

Wuik…. pelajaran bagus nih ku dapat. Langsung dari tangan pertama. Aku juga sempat menyaksikan, betapa “Money doesn’t matter, any longer” betul bagi dia. Lha habis, dia punya anjing besar. Dia kawinkan anjing itu ke Bandung, bayar 2 juta rupiah. Orang-orang pada sewot…. wong miara kok anjing gede, pakannya berapa, tuh..? Ngawinkannya saja bayar 2 juta. Tapi dia berpikir lain. Anjing itu sekali beranak 4 ekor, anak anjing tipe dia punya, berharga 2 juta seekor. Setahun dapat beranak 2 kali.. lhaah… kan setahun dia untung 12 juta rupiah? Itu dah berlebih buat beli pakan dan bahkan dapat kasih upah tukang cuci dan 2 pembantu…. Busssyeeet! Anjing bisa kasih upah pembantu dan tukang cuci? Sambil kasih makan diri sendiri?

Ah, Ki Broto memang seorang dalang bisnis berwawasan Juragan Ship. Yang dia masih berpendapat, kalau orang muda dan terutama mahasiswa, diajari ber-entrepreneurs… terlalu berat. Karena entrepreneur harus menghabiskan waktu betul. Lain dengan investorship, yang memungkinkan dia tetap bekerja sebagai “buruh intelek” tetapi “uangnya” jalan bermultiply dengan sendirinya. Asal dia menemukan entrepreneur yang tepat dengan sistem yang jalan.

Ingin deh rasanya menirunya. (Bogor, 6 Mei 2005)

Tentang propbiyang

pekerjaan utama dosen ipb-bhmn, sambilan sebagai tukang kebun buah naga di bogor, network marketer pt melia nature indonesia, admin warung biyang propolis
Pos ini dipublikasikan di motivasi. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Juraganship

  1. edwina610 berkata:

    hahaha lucu temen rex \ NDAGEL
    crito pak dalang
    beuhhh gek kapan yo ganti q si sukses lan sugih
    bondho KANGGE sangu ndonyo akhirot,,,,,
    sembah nuwun pak
    kulo ugi kepengin sanged niru wkwkwk

    by edwina610@yahoo.co.id
    PONOROGO_MADIUN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s