Inflasi 10% bagaimana 30 tahun mendatang?

Pengunjung Yth,

Sahabat saya, Ir Iyung Pahang, MMA, mengirimkan draft bukunya yang berjudul “Merdeka atau Mati”. Di awal tulisannya sudah menghentak dengan 3 pertanyaan jitu yang kalau boleh saya persingkat dan ubah inti pertanyaannya menjadi:
1) Kapan Anda pensiun? (berhenti bekerja)
2) Kapan Anda meninggal? (introspeksi kesehatan pribadi)
3) Cukupkah bekal Anda antara pensiun s.d. meninggal?

 Sungguh saudara, ketika selesai membaca pendahuluan buku itu, saya jadi berpikir keras sambil menghitung-hitung…:-( Dan rupanya memang runyam. Apalagi Mas Iyung memberi gambaran tentang seorang yang lulus sarjana pada usia 25 tahun, lalu bekerja normal hingga pensiun usia 55 tahun dan memenuhi harapan hidup normal rata-rata orang Indonesia, meninggal pada usia 70 tahun. Sudah begitu digambarkan pula gerogotan inflasi yang semakin memusingkan, tetapi menggelikan jika dibandingkan dengan visi para pasangan capres-cawapres yang rupanya seperti melihat layar wayang kulit. Semua dianggap tetap. Sehingga slogan sembako murah, harga BBM tak bisa lebih murah… pendidikan gratis…, weleh. Kenapa? Seorang lulus sarjana umur 25 tahun, artinya dia hanya punya waktu mengumpulkan bekal memasuki injury time hanya 30 tahun. Saya sekarang sudah 47 tahun kurang dikit… artinya tinggal tersedia 9 tahun lagi saya harus mengumpulkan bekal, jika tidak mau merepotkan anak-cucu dan tonggo teparo. Atau harus rela masuk rumah jompo melewati masa MPP (Mati Pelan-pelan), tulis Mas Iyung. Sedihnya lagi, Mas Iyung pamer, betapa nikmatnya rekreasi di Ancol ketika hari kerja… betapa senangnya kerja 4 jam seminggu berpenghasilan 3 kali lipat gaji kepala departemen suatu perusahaan raksasa…

Maka saya ikutan hitung-hitung, kira-kira berapa kebutuhan hidup keluarga saya pada 5, 10, 15, 20 dan 30 tahun ke depan. Dengan asumsi kebutuhan hidup keluarga saya sekarang dengan ikat-pinggang sangat ketat, Rp 5,000,000 dan laju inflasi tahunan tetap 10% (padahal kenyataannya tahun 2008 kemarin inflasi Indonesia mencapai 11% lebih. Inilah hasil hitungan kebutuhan hidup keluarga saya dengan kondisi seperti sekarang:

inflasi

Nah jika umur saya mencapai harapan hidup nasional lebih dikit sampai 2041 (bonus 9 tahun…:-) ) maka sebulan saya harus menyediakan uang Rp 105,000,000 lebih dikit. Mampukah saya? Jika mekanisme penggajian negeri ini masih saja begini? Lalu bagaimana dengan kehidupan seorang PNS atau karyawan swasta yang tingkatnya setara PNS IIIa (anggap saja gaji PNS IIIa Rp 3,000,000 sebulan), inilah hitungannya:

sarjana
Dan bagi Anda sekalian yang sekarang berkedudukan sebagai kaum eksekutif, kebutuhan hidup Anda sebulan apda tahun 2041 mencapai Rp 211 juta lebih dikit…

eksekutif

Para usahawan harus bisa membayar UMR (untuk wilayah BODETABEK anggap saja Rp 1,200,000 sebulan) sebesar Rp 25 juta lebih sebulan.

UMR

Bisakah itu kita lewati nanti dengan tenang? Mengingat semakin tua kita semakin besar kebutuhan pribadi untuk memelihara kebugaran dan kesehatan serta biaya sosial yang semakin tinggi, tentunya hitung-hitungan ‘riil’ di atas adalah MINIMALIS. Kebutuhan hidup kita tentunya akan lebih besar dari hitungan itu. Sehingga tanpa upaya cermat dan smart, hitungan-hitungan di atas adalah LONCENG KEBANGKRUTAN SEMESTA.

Karena inflasi ini seperti hukum alam, semenjak diciptakannya sarana transaksi berupa uang dan nilai valuta, maka wajar bukan jika semakin lama semakin banyak orang miskin di Indonesia tercinta ini? Lha wong hitungan kebutuhannya meningkat kok penghasilan jalan di tempat?

Lalu siapa yang bisa mengubah? Tak lain ya kita sendiri. Kitalah yang harus berupaya agar hal itu dapat berjalan wajar bagi kehidupan kita. Artinya penghasilan kita harus meningkat dengan pertambahan pertahun yang melampaui laju inflasi, baru ada kesempatan kita mengisi pundi-pundi tabungan tiap bulan, bukan tambal sulam atau galo-tulo (gali lobang tutup lobang).

Kebetulan dalam rangka mengantisipasi hal itu, saya menggunakan PT MNI sebagai sarana menambah penghasilan. Hasilnya sudah nyata terasa saya alami melampaui inflasi bulanan, dalam satu tahun terakhir. Naga-naganya akan terus meningkat dengan peningkatan mengikuti deret ukur, bahkan eksponensial atau setidaknya faktorial…

Nah,  jika Anda  setuju dengan hitungan minimalis diatas dan berminat pula mengikuti saya, mari segera bergabung di PT MNI. Dapatkan formulir pendaftaran dan beberapa penjelasan tentangnya via e-mail ke: mnidramaga@yahoo.com atau mnidramaga@gmail.com. Mari saudara sekalian, kita tempuh gerogotan inflasi dengan tenang, sekaligus kita ajak orang-orang yang secara ekonomi selapis dua lapis di bawah kita.

Mari bersama menuju puncak kesuksesan dengan solusi kesehatan, finansial dalam persahabatan bisnis yang positif dan kolaboratif.

Salam Sukses dari Bogor, 

SMS:
0819-31101719
0815-11504535
0813-17259136

Tentang W D Widodo

Winarso D Widodo, admin e-warung http://wfbc.netfirms.com/ yang merupakan stokis PT Melia Nature Indonesia untuk wilayah Darmaga - Bogor dan sekitarnya. PT MNI merupakan perusahaan MLM untuk 2 produk kesehatan: 1) Melia Propolis dan 2) Melia Biyang, sarana menuju hidup Sehat dan Sejahtera Bersama.
Pos ini dipublikasikan di Kesaksian Bonus, MLM-Distinct, motivasi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s